Be My Constant

Kamis, 31 Desember 2015
Dua tahun sebelum ini di tanggal yang sama, saya sedang dalam perjalanan naik kereta dari Semarang menuju Surabaya. Disambut dengan gemericik hujan sebelum memasuki stasiun, sama seperti Surabaya malam ini. Pertama kalinya bertemu sahabat saya Januar, setelah 2 tahun semenjak masa PKL kami berakhir. Awalnya saya juga ndak kenal siapa itu Januar, bahkan di pabrik pun kami ndak pernah saling sapa. Tapi sekarang jangan ditanya, jarak bukan lagi penghalang kami untuk menjadi teman, sahabat, saudara, atau apalah itu namanya.
Begitulah hati, mudah dibolak – balik oleh Sang Pemilik. Yang dulunya jauh sekarang didekatkan, yang tak pernah berjabat tangan sekarang malah jadi teman, yang dulunya selalu di nanti sekarang malah pergi.
Tak ada yang abadi, begitulah katanya. Pun dalam segala bentuk hubungan, entah dengan kawan, pasangan, keluarga, rekan kerja, atau bahkan orang yang belum pernah kita kenal sekali pun. Saya percaya semua yang ada di dunia ini saling berhubungan. Mempunyai keterkaitan satu sama lain, hanya saja banyak dari kita yang tak menyadarinya, termasuk saya.
Ah rasanya tulisan saya kali ini terlalu menye – menye ya. Terlalu banyak pakai perasaan.

***
Tak ada yang abadi, juga dalam pertemanan. Namun sejauh ini saya berusaha melawan, melawan sesuatu yang sudah jadi general truth. Saya ndak rela saja kalau pertemanan itu dibatasi dalam kurun waktu sekian tahun. Kemudian berakhir dengan tak saling kenal, acuh, cuek, sampai benar – benar lupa kalau dulunya pernah tertawa bersama. Saya kekeuh dengan apa yang saya yakini, Ever Lasting Friends, yeah f.r.i.e.n.d.s.
Namun nyatanya ada yang sedikit keliru dengan persepsi saya. Tak ada yang abadi, bukan berarti tak ada lagi. Sama seperti hukum kekekalan energi yang menyatakan :
Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari 1 bentuk energi ke bentuk energi yang lain.
Mungkin begitulah seharusnya saya melihat sebuah hubungan. Ia kekal, tak kan lekang, hanya berpindah saja. Ya, mungkin berpindah ke dalam wujud lain yang terabaikan oleh kita. Barangkali itu berupa intensitas pertemuan atau kualitas hubungan itu sendiri. Kalau sudah begini pilih mana, kuantitas atau kualitas? Kalau saya pribadi sih pilih yang mana aja, asal pakai hati hihihi :)
People come and go (and also grow). That’s what we used to forget, everytime we take a breathe, we were growing. Nobody wants to be constant. Everybody needs those changes. Everybody doesn’t want to be like a statue. Semua orang pasti ingin terus dan terus berkembang, atau lebih tepatnya mencari sesuatu dalam dirinya untuk dikembangkan. Dan disitulah kita ini sering merasa terabaikan, merasa lho ya. Bukan berarti yang sebenarnya seperti itu juga hehehe.
Dari mana lagi kalau bukan linimasa hihi
Mengutip satu paragraf dari linimasa yang berisi demikian :
"Banyak orang baru akan datang dari hidup kita. Tidak sedikit juga yang akan meninggalkan hidup kita, atau pindah ke perimeter di mana tidak terdeteksi dengan indera atau perangkat telekomunikasi sederhana. Alangkah indahnya kalau saya bisa bilang dengan keyakinan, apapun yang terjadi di dunia ini, you’ll be my constant"

Comments