Matahari dan Bulan Juga Rindu Bumi
Memberi jarak atau sedikit ruang pada segala hal. Tak terlalu dekat, tak sampai melekat.
Jeda, memberi fungsi pada tombol spasi. Tulisan yang tak berjarak tak kan terbaca maknanya. Tak kan terlihat indahnya. Tak kan terlihat maksudnya. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, komunikasi, baik itu lisan maupun tulisan memiliki ciri khasnya tersendiri. Namun apa yang membuat keduanya berkaitan? Adanya jeda dalam setiap kata yang disampaikan. Ada sedikit ruang diantara rangkaian kata yang hendak dikomunikasikan.
Memberi jeda itu perlu, wajib malah. Tak akan ada tulisan yang terbaca jika tak memiliki jeda. Pun kata – kata yang terucap tanpa jeda juga hanya melelahkan si pembicara, apalagi pendengarnya. Merangkai kata juga butuh keahlian, ndak sekedar menggabungkan huruf dengan huruf dan beberapa tanda baca. Merangkai kata juga hendaknya dibarengi dengan kemampuan menempatkan jeda, serta kemampuan menyampaikan pesan lewat kata – kata. Kadang apa yang kita pikirkan ndak sesuai dengan apa yang keluar dari bibir kita. Ndak papa, sudah biasa. Saya pun juga biasanya mbelibet kalau sedang ndak fokus. Tapi yang jadi pertanyaan, apa iya tiap hari atau mungkin tiap saat kita ini ndak fokus? Heuuh kelaut sajalah kalau begitu, jadi putri duyung.
Ada ruang yang diciptakan diantara tiap insan, bukan untuk menjauhkan, bukan pula untuk memisahkan. Pahamilah, ada ruang yang harus tetap dibiarkan kosong tanpa isi. Matahari dan Bulan pun tetap mempertahankan jaraknya dengan Bumi. Tak tahukah kau kalau Matahari dan Bulan juga rindu pada Bumi?
Tak perlu lagi tanya tentang Matahari, Bulan serta Bumi. Sebagai makhluk yang diciptakan dengan akal budi plus hati, mungkin kita ini kurang peka dengan hal - hal kecil yang disajikan alam. Mungkin telinga kita terlalu bebal untuk mendengar. Serta hati kita terlalu perasa untuk cinta, tapi ndak peka untuk suatu hal yang kongruen dengan kehidupan kita. Kealpaan kita untuk memahami tanpa perlu bertanya lagi. Cukup tahu saja. Enough is enough, don’t get much.
Tak perlu ada kegetiran dalam hidup. Jika bisa dihindari, mengapa harus dialami? Tetaplah memberi jeda, hingga kita semua sampai pada perimeter yang tak mampu dijangkau apapun juga, bahkan oleh komunikasi yang sederhana.

Comments
Post a Comment