Senarai Dalam Gawai
Selamat tanggal satu di bulan ke dua belas.
Coba buka wasapmu, berapa pesan yang belum dibalas?
Berapa banyak WhatsApp grup yang kita punya di gawai kita? Saya yakin minimal nih ya, minimal itu ada 4 wasap grup di tiap gawai. Biasanya sih grup kelas, grup fakultas, grup kegiatan kampus, grup pekerjaan, dan grup – grup bikinan genk lainnya yang sayang kalau dibuang. Saya sendiri punya 4 grup yang aktif memberi notifikasi setiap hari, mulai peagi sampai pagi lagi. Serta 5 grup lain yang baru aktif ketika akan ada event atau tugas. Iya tugas, bahkan untuk tiap mata kuliah yang ada tugas kelompoknya pun punya grup wasap. Isinya kadang hanya 4 – 8 orang. Dan aktif hanya saat ada tugas huehehehe.
Berapa banyak WhatsApp grup yang kita punya di gawai kita? Saya yakin minimal nih ya, minimal itu ada 4 wasap grup di tiap gawai. Biasanya sih grup kelas, grup fakultas, grup kegiatan kampus, grup pekerjaan, dan grup – grup bikinan genk lainnya yang sayang kalau dibuang. Saya sendiri punya 4 grup yang aktif memberi notifikasi setiap hari, mulai peagi sampai pagi lagi. Serta 5 grup lain yang baru aktif ketika akan ada event atau tugas. Iya tugas, bahkan untuk tiap mata kuliah yang ada tugas kelompoknya pun punya grup wasap. Isinya kadang hanya 4 – 8 orang. Dan aktif hanya saat ada tugas huehehehe.
Awalnya saya sangat terbantu dengan adanya wasap grup ini. Tak perlu repot – repot menghubungi teman satu persatu. Cukup tinggalkan pesan di grup saja, nanti urusan dibaca atau ndak kan sudah bukan urusan kita, yang penting sudah disampaikan (gitu ndak sih?). Tapi sayangnya kadang pesan kita ini malah ndak tersampaikan kepada yang dituju. Lha baru posting satu info, teman – teman langsung memberi tanggapan yang beragam. Sedikit yang nyambung, selebihnya aaaah tahu sendiri lah, malah guyon ndak jelas (itu saya), curhat masal (itu saya), balik bertanya sebenarnya sedang membahas apa (itu juga saya).
Yah sebenarnya kalau saya ada di posisi pemberi informasi sih pasti bakal empet ya, sudah kasih info panjang x lebar, tanggapannya malah ndak nyambung. Atau kadang ketika ndak ada bahasan apa – apa, ada aja yang celotehan di grup yang substansinya pun ndak relevan dengan nama grupnya. Ndak peduli grup itu isinya siapa aja, entah sadar atau ndak yang pasti itu sangat mengganggu anggota grup lainnya (itu saya hikshiks). Terkadang atas dasar solidaritas atau (katanya) sekedar menjaga tali silaturahim , beberapa orang rela tetap bertahan di grup yang sudah ada. “Ndak enak”, “sungkan kalau tiba – tiba keluar”, “nanti apa kata yang lain kalau saya keluar grup, dikiranya ndak solid”. Begitulah kira – kira jawaban paling umum yang saya dengar dari kawan – kawan saya. Terlalu memikirkan perasaan orang lain, eeeng lebih tepatnya terlalu memikirkan apa kata orang lain. Jadinya ya gitu, berkutat di kubangan yang sama, sampai makin banyak grup yang diikuti, sampai Sam Smith duet sama Nassar, ya ndak bakal berubah.
***
Beberapa orang yang lain memilih mengaktifkan tombol “mute”, pilhannya hanya ada 3 yaitu 8 jam, seminggu, atau setahun (kalau ini mending left aja kali ya). Ndak bakal ada notif masuk. Palingan ya cuma numpuk gitu aja di tab chat kita.
Atau yang lebih ekstrim langsung leave group, yang ini biasa dilakukan oleh orang – orang yang sudah ndak berkepentingan. Bisa jadi sudah punya banyak grup wasap di gawainya. Bisa jadi juga ndak mau ambil pusing soal notif yang tang-ting-tung ndak jelas. Sudah ndak se-visi. Atau karena dirasa ndak perlu lah grup wasap itu, ndak cukupkah bertatap muka tiap hari kok sampai repot – repot bikin grup wasap (ini masuk akal).
Sebenarnya aplikasi personal chat macam WhatsApp, BBM, Line dan kawanannya ini kan hanya perantara komunikasi kita yang lebih jauh (lebih tepatnya lebih hemat), kerna kesibukan yang beragam sampai ndak sempat ketemu langsung untuk ngobrol – ngobrol. Ya begitulah, ketika binar mata tergantikan layar gawai. Ndak seribet yang ada. Manusianya aja yang bikin ribet. Ketika ada yang left, langsung pada heboh, “si ini si inu si anu ndak solid nih, masa dia keluar dari grup gitu aja”. Besoknya pas ketemu langsung disergap macam begini “kamu kok left sih?”, “kamu kok ndak bilang bilang dulu sih?”, “ini kan cuma grup”, ”kamu ndak mau jaga silaturahim nih”.
Seberapa sering sih kita memberi kontribusi di grup wasap? Seberapa besar juga manfaat yang kita terima dari grup wasap tersebut? Atau seberapa sering kita adu mulut ndak jelas lewat aplikasi yang warnanya ijo bulet itu?
Memang jaman sudah berubah, cara berkomunikasi pun mengikuti jaman. Dari yang dulunya cuma lewat merpati pos, telepon koin, wartel, tulisan di tembok kelas yang dibales seminggu sekali, sms, email, sampai sekarang tibalah kita di jaman serba cepat yang pakai aplikasi personal chat.
Yang berubah juga adalah pola pikir (kebanyakan dari) kita. Bahwa silaturahim lewat pesan singkat di layar gawai saja sudah cukup. Padahal salah penempatan titik koma saja sudah bisa bikin Surabaya makin membara hoy. Tiap orang juga punya daya imajinasi sendiri – sendiri, bisa saja dibaca dengan nada datar, atau malah nada tinggi yang memekik.
Tergantung imajinasi.
Saya pribadi lebih suka komunikasi langsung ketimbang lewat gawai. Intonasi lawan bicara, binar mata, gerak tubuh, bahkan dari hembus nafasnya kita bisa tahu mood lawan bicara kita. Saya sendiri bukan orang yang bisa baca kepribadian orang lain lewat bahasa tubuhnya, itu butuh skill tinggi. Saya hanya terbiasa saja berhadapan dengan orang baru atau pun lama secara personal. Ndak ada orang lain, hanya saya dan dia. Dari situ saya bisa tahu bagaimana harus menghadapi lawan bicara saya.
Membuat lawan bicara merasa nyaman itu ndak gampang, makanya harus banyak – banyak belajar komunikasi pakai hati. Salah koma sama dengan salah intonasi. Salah tanda baca sama dengan salah mengarahkan mata. Mirip – mirip gitu lah.
Kerna tulisan memang tak pernah bisa menggantikan lisan. Pun sebaliknya. Lisan lebih jujur, ceplas ceplos ndak pakai dirangkai. Tulisan lebih indah, menyejukkan hati pembacanya.
Kembali lagi bagaimana enaknya kita saja.
Mau lewat gawai atau ngopi santai?

Comments
Post a Comment