My Best
Semalam aku menelepon Januar, setelah perang dingin beberapa hari. Dua hari yang lalu dia menyuruh seorang kawannya untuk menghubungiku, menanyakan kabarku, serta menitip salam lewat kawannya itu. Agak terharu sebenarnya, disaat aku mengharapkan kabar dari seseorang yang bertahun-tahun ku nanti, ternyata nun jauh di ujung barat sana ada yang diam-diam menanti kabar tentangku (oke ini berlebihan haha). Je, terimakasih sudah selalu ada di saat-saat terlemahku seperti ini. Kita memang sangat jarang bertemu, bahkan terakhir kali aku bertatap muka denganmu itu sudah lima tahun yang lalu. Situasinya hampir sama seperti sekarang ini, saat hatiku patah lagi, dengan orang yang sama. Kali ini memang aku yang salah ya haha. Aku hanya berharap suatu hari nanti kita bisa bercengkrama lagi di taman kota, menanti senja tiba sambil menunggu hujan reda. Kita berdua hanya duduk terdiam di bangku taman sambil memandang ke arah gereja, betapa saat itu aku merasa sepasang sahabat sedang memasrah...