Friday, Nov 13th 2015
Di akhir tahun ini saya lebih woles dibanding tahun - tahun sebelumnya. Tak banyak air mata yang tumpah, semua yang terjadi ya biarlah. Toh sudah biasa. Dua tahun yang lalu juga saya sudah pernah mengalami seperti ini, hanya sekali namun efeknya seperti dihantam martil tepat di ulu hati. Tak sakit, tak luka, tak perih, hanya mati rasa saja. Entah saking kuatnya atau saya yang terlalu lemah, sampai tak mampu lagi merasakan apa - apa. Saat itu tak banyak yang bisa saya lakukan, hanya diam dan menangis diam - diam. Bepergian ke banyak kota, sendirian. Kata orang pergi jauh itu semacam self healing. Memberi sugesti pada diri sendiri, bahwa semua masih dan akan tetap baik - baik saja.
Toh pada awalnya kita datang ke dunia ini sendiri, dan akan kembali pulang juga sendiri. Tak apa, semua akan baik - baik saja. Hanya butuh waktu untuk meredam luka, atau sekedar membiasakan hati tetap terbuka walaupun sedang terluka. Semua baik - baik saja.
***
Setahun kemarin, semua mulai membaik. Hidup baru dimulai, dengan lingkungan dan teman - teman baru. Pekerjaan, kuliah, teman - teman, keluarga, anak - anak, kegiatan gereja, pasangan, semuanya Tuhan lengkapkan di tahun lalu. Saya merasa semua baik - baik saja. Tak ada yang kurang, tak pula berlebihan, semuanya cukup. Bahkan saya mulai lupa kalau sebelumnya hati ini pernah luka sampai mati rasa. Rasanya sangat bahagia, tapi entah mengapa sepertinya ada yang kurang. Rasa tamak mulai timbul, keinginan untuk mereplika diri di banyak tempat dalam satu waktu yang sama. Rasa percaya diri yang berlebih, dengan menganggap semua bisa ditangani hanya dengan dua tangan ini. Rasa tinggi hati, sungguh saya mulai muak dengan semua rasa ini. Hati yang tak lagi bersih, malah terlalu banyak isi. Terlalu banyak membagi hati. Melupakan Sang Empunya hati yang selalu dan selalu menjaga hati ini agar tak terluka lagi. Sang Empunya hati yang cemburu kerna saya tak lagi membagi hati denganNya.
Entah ini akhir atau baru dimulai. Di awal tahun, satu persatu yang dulunya tergenggam akhirnya lepas di tengah jalan. Satu persatu disingkapkan. Yang dulunya terlihat baik - baik saja, ditunjukkanNya kalau dia tak baik untuk saya. DijauhkanNya segala hal yang tak baik untuk saya. Hal yang membuat hati saya terluka, yang membuat saya menangis tanpa guna, yang tak sedikit pun menjaga hati saya, Tuhan jauhkan semuanya. Tak sekaligus, namun perlahan - lahan. Sampai malam pun ini saya baru sadar, ternyata saya sudah tak lagi menggenggam apa - apa. Tangan kosong yang harusnya sejak dulu saya lipat rapat. Mungkin Dia rindu, pun saya juga rindu membagi hati denganNya. Menitipkan hati saya untuk dijaga olehNya.
Maka mulai sekarang biarlah saya mulai sesuatu yang baru lagi. Di usia yang hampir dobel duanya ini, biarlah saya ditempa jadi wanita dewasa yang bermental baja. Yang tak melulu pakai hati, yang tak selalu membagi hati, yang tahu kapan harus pakai hati, yang ngerti cara menjaga hati.


Comments
Post a Comment