Yang Hilang, Yang Kembali Pulang
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk menabur, ada waktu untuk menuai. Ada waktu untuk berduka, ada waktu untuk bersuka. Ada waktu untuk berlari, ada waktu untuk berhenti.
Segala sesuatu memang ada masanya, tak selamanya tak pula semaunya. Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Dipertemukan dengan siapa, bagaimana, kapan, semua sudah ada yang merencanakan. Tak ada yang sia-sia di dunia, bahkan terang juga butuh gelap untuk terlihat terang.To every [thing there is] a season, and a time to every purpose under the heaven. Ecclesiastes 3:1
Menjadi terang di tempat yang gelap, menjadi saluran berkat bagi yang lain, menjadi kado bagi orang-orang di sekitar kita, setiap hari.
Lelah? Sudah tentu, jika hati yang ikhlas tak ada bersama kita.
9/10[/caption]***
Tadi pagi seorang pendeta dalam khotbahnya menyampaikan tentang menjadi kado atau berkat bagi orang lain. Paulus dalam pelayanannya yang luar biasa ternyata diawali oleh kerendah hatian seorang Barnabas, yang setia menyokong pelayanan seorang Paulus. Menjadi Barnabas? Bisa kah? Mampu kah? Mau kah saudara dan saya untuk ambil bagian dalam pelayanan yang barangkali diabaikan oleh manusia? Pelayanan yang tidak mendapat tempat untuk dikenang? Pelayanan yang tulus menyokong orang lain yang dipakai lebih oleh Tuhan? Maukah saudara dan saya melakukannya?
***
[caption id="attachment_2302" align="alignnone" width="1600"]
9/10[/caption]Pada akhirnya selalu ada rindu yang mengundang hadir. Hujan yang membawa kami bertemu kembali, masih di tempat yang sama dengan rindu yang sama. Karena pada hujan Tuhan telah menitipkan berkatNya, rinduNya, pengasihanNya pada kita yang terhilang, untuk kembali pulang.

Comments
Post a Comment